Hindari Mengeluh..!!! Manusia dan Medsos Bukan Tempat Mengeluh, Lalu Kepada Siapa Kita Mengeluh...???

Kita semua pasti pernah mempunyai masalah dalam kehidupan. Ada kalanya kita merasakan bahagia dan senang, ada kalanya kita merasakan sedih dan pilu. Hal ini adalah sunnatullah.

Hikmah Sholat

Shalat sebagai Rukun Islam ke dua sarat dengan makna dan hikmah yang terkait dengan aktivitas keseharian dalam kehidupan. Diantara hikmah shalat yaitu:

BERKAH MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Kita memperingati kelahiran Nabi, kita akan mendapatkan empat perkara.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

"SELAMAT DATANG DI BLOG PUSTAKA ASLIKAN, SEMOGA BERMANFAAT"

4 Perempuan Yang Berada Di Surga dan 4 Perempuan Yang Berada Di Neraka

4 Perempuan Yang Berada Di Surga
Nabi Muhammad SAW bersabda yang Artinya :
"Datang dari Nabi SAW. bahwa beliau bersabda : Empat perempuan berada di surga dan empat perempuan berada di neraka dan beliau menyebutkan di antara empat perempuan yang berada di surga adalah :
  1. Perempuan yang menjaga diri dari berbuat haram lagi berbakti kepada Allah dan suaminya.
  2. Perempuan yang banyak keturunannya lagi penyabar serta menerima dengan senang hati dengan keadaan yang serba kurang (dalam kehidupannya).
  3. Perempuan yang bersifat pemalu, dan jika suaminya pergi maka ia menjaga dirinya dan harta suaminya, dan jika suaminya datang maka ia mengekang mulutnya dari perkataan yang tidak layak kepadanya.
  4. Perempuan yang ditinggal mati oleh suaminya dan ia mempunyai anak - anak yang masih kecil, lalu ia mengekang dirinya hanya untuk mengurusi anak - anaknya dan mendidik serta memperlakukannya dengan baik kepada mereka dan tidak bersedia kawin karena khawatir putra - putranya akan tersia - sia (terlantar).
4 Perempuan Yang Berada Di Neraka
Nabi Muhammad SAW Bersabda yang Artinya:
"Dan adapun empat perempuan yang berada di neraka adalah:
  1. Perempuan yang jelek (kotor) mulutnya terhadap suaminya, jika suami pergi, maka ia tidak menjaga dirinya dan jika suaminya datang maka ia memakinya (memarahinya).
  2. Perempuan yang memaksa suaminya untuk memberi apa yang tidak mampu.
  3. Perempuan yang tidak menutupi dirinya dari kaum lelaki dan keluar dari rumahnya dengan menampakkan perhiasannya dan memperlihatkan kecantikannya (untuk menarik kaum lelaki).
  4. Perempuan yang tidak mempunyai tujuan hidup kecuali makan, minum dan tidur dan ia tidak senang berbakti kepada Allah dan tidak senang berbakti kepada RosulNya dan tidak senang berbakti kepada suaminya.
Oleh karena itu seorang perempuan yang bersifat dengan sifat - sifat (empat) ini, maka ia dilaknati termasuk ahli neraka kecuali jika ia bertaubat.

Pasang Iklan Murah

Deskripsi Blog Pustaka Aslikan

Pustaka Aslikan adalah blog yang berisikan tentang Ilmu Pengetahuan, Pendidikan dan seputar Agama Islam.

1. Statistik Blog Pustaka Aslikan :
2. Visitor Sementara mencapai : Lihat Detailnya
4. Jumlah Pageview per hari sekitar 500+.
5. Alexa Rank mencapai : lihat detailnya

Jenis, Space, dan Spesifikasi Harga Pasang Iklan Murah:

Dapatkan potongan Rp. 5.000 (berlaku kelipatan) apabila memasang lebih dari 1 bulan), cek perhitungan paket 2 bulan dan 3 bulan.

-Iklan Banner 468 x 60 Header kanan (sponsor utama), ditampilkan di semua halaman (rented)
1 bulan : Rp. 20.000
2 bulan : Rp. 35.000
3 bulan : Rp. 50.000

-Iklan Banner 728 x 90 Di bawah header menu, ditampilkan di semua halaman (tersedia 1 slot)
1 bulan : Rp. 50.000
2 bulan : Rp. 95.000
3 bulan : Rp. 140.000

-Iklan Banner 300 x 250 di sidebar kanan, ditampilkan di semua halaman
1 bulan : Rp. 25.000
2 bulan : Rp. 45.000
3 bulan : Rp. 65.000

-Iklan Banner 125 x 125 Di sidebar kanan, ditampilkan di semua halaman
1 bulan : Rp. 15.000
2 bulan : Rp. 25.000
3 bulan : Rp. 35.000

Note: Iklan jenis lain dan yang masih dalam masa sewa dapat ditanyakan dan dikomunikasikan lewat kontak.

Syarat, Ketentuan, & Lain-lain:

(1) Iklan tidak mengandung dan berhubungan langsung dengan hal-hal berbau p*rnogr*phy, SARA, perjudian, dan semua hal yg jelas dilarang agama dan negara dan pustakaaslikan.blogspot.com berhak menolak iklan dengan jenis seperti yg telah disebutkan. Adapun iklan yang berkaitan dengan seksualitas secara ilmiah (misalnya pengobatan, tips, dll) diperbolehkan asal tidak menggunakan gambar vulgar.

(2) Iklan dibuat oleh pemasang iklan, dengan ketentuan banner berukuran maks sekitar 50 Kb, agar tidak mengganggu proses loading halaman.

(3) Segala isi materi iklan adalah sepenuhnya tanggung jawab pemilik iklan, pustakaaslikan.blogspot.com tidak bertanggungjawab atas segala tuntutan materi iklan serta tidak bertanggung jawab pula terhadap isi materi yang dibuat oleh pengiklan.

(4) Iklan banner ditayangkan selambat-lambatnya 1x24 jam setelah pembayaran.
Kontrak yang dianggap mengikat dan deal adalah apabila iklan yang hendak ditayangkan sudah terpenuhi biayanya. Contoh kasus: advertiser A memesan dan menghendaki pemasangan iklan pada suatu space yang masih disewa advertiser lain dan belum selesai masa penayangannya, maka pemesanan pada space tersebut dianggap mengikat apabila sudah terbayar. Jika masih pada tahap menanyakan saja dan belum memenuhi biaya iklan, maka advertiser lain, advertiser B, berhak juga mentarget space tersebut. Apabila kemudian advertiser B langsung membayar space yang ditargetnya, maka dialah yang berhak menempatkan iklan pada space yang dimaksud setelah masa penayangan iklan sebelumnya berakhir. Ini demi kenyamanan advertiser dan untuk menghindari pemesanan space iklan yang berujung pembatalan, padahal sebelumnya saya telah menolak beberapa advertiser lain dengan alasan space tersebut sudah dipesan. Tentu ini merugikan saya dan pihak advertiser lain.

(5) Penggantian gambar banner hanya bisa dilakukan 1 bulan sekali.

(6) Ketentuan dan harga untuk iklan banner dengan ukuran lain dan berjenis animasi berat (gif, flash, dll) dibicarakan kemudian setelah pihak pemasang iklan melakukan kontak.

(7) Perpanjangan iklan harap dikonfirmasikan selambat-lambatnya satu minggu (7 hari) sebelum masa kontrak habis. Informasi perpanjangan setelah waktu yang ditentukan, kepastiannya tidak dapat dijanjikan dan tidak menjadi tanggungjawab saya.

(8) Harga, syarat, dan ketentuan di atas dapat berubah sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.

(9) Untuk melakukan pemasangan iklan di blog ini serta informasi cara pembayaran silakan hubungi melalui Contact Me, email: aslikan.alhabb@gmail.com, SMS/Phone: 081515277521 (hanya sebagai konfirmasi dan notifikasi). Demi efisiensi, langsung sertakan materi iklan berupa gambar dan url. Gunakan fitur upload pada contact form atau attachment pada email.

Sistem Pembayaran

Pembayaran dapat dilakukan dengan mengirim pulsa atau melalui Rekening Bank, bila anda berminat silakan hubungi saya melalui Contact Me.

5 Tanggung Jawab Suami Kepada Istri

5 Tanggung Jawab Suami Kepada Istri antara lain :

1. Menjadi pemimpin anak istri di dalam rumah tangga.
2. Mengajarkan ilmu yang fardhu 'ain (wajib) terhadap anak istri yaitu : ilmu tauhid, ilmu fiqih, ilmu tasawwuf.
  • ilmu tauhid diajarkan supaya aqidahnya sesuai dengan aqidah ahlussunnah wal jama'ah.
  • ilmu fiqih diajarkan supaya segala ibadahnya sesuai dengan hukum Islam'
  • ilmu tasawwuf diajarkan supaya ikhlas dalam beramal dan dapat menjaga segala amalannya dari kerusakan oleh rasa riya', sombong, pamer, dll.
3. Mencukupi segala kebutuhan keluarga termasuk : makan, minum, pakaian dan tempat tinggal dari uang dan usaha yang halal.
  • "Sekali membelikan pakaian anak istri yang menyenangkan hati mereka dan halal maka suami mendapat pahala selama 70 tahun"(kata ulama').
 4. Tidak mendholimi anak istri yaitu dengan :
  • Memberikan didikan agama yang sempurna.
  • Memberi nafkah dhohir dan bathin secukupnya.
  •  Memberi nasihat serta menegur dan memberi peringatan jika melakukan ma'shiyat dan melakukan kesalahan.
  • Bila memukul jangan sampai cacat atau melampaui.
5. Memberi nasihat jika istri gemar menggunjing (membicarakan keburukan orang lain), memamerkan harta benda yang dimilikinya, meninggalkan perintah agama serta melakukan segala sesuatu yang menyimpang dari ajaran islam.

Persepsi Siswa Terhadap Guru Pendidikan Agama Islam Yang Ideal

Skripsi : "Persepsi Siswa Terhadap Guru Pendidikan Agama Islam Yang Ideal"

Latar Belakang

Guru merupakan salah satu penentu keberhasilan dalam pendidikan. Untuk itu setiap adanya inovasi pendidikan, khususnya dalam kurikulum dan peningkatan sumber daya manusia yang dihasilkan dari upaya pendidikan harus bermuara pada guru. Hal ini menunjukkan bahwa betapa eksistensinya peran guru dalam dunia pendidikan. Menurut Zakiyah Daradjat dalam bukunya Ilmu Pendidikan mengemukakan bahwa guru adalah Pendidik yang profesional karena secara eksplisit ia telah merelakan dirinya untuk menerima dan memikul sebagian tanggung jawab pendidikan yang terpikul di pundak orang tua”
Dan di negara-negara timur sejak zaman dahulu kala guru dihormati oleh masyarakat. Di Jepang, guru disebut senshei artinya yang lebih dahulu lahir. Di India menganggap guru sebagai orang suci dan sakti. Di Inggris guru itu dikatakan teacher dan di Jerman 揹er lehrer_ keduanya berarti pengajar, melainkan juga pendidik baik di dalam maupun di luar sekolah. Guru atau pendidik kedua istilah tersebut bersesuaian arti bedanya yaitu guru biasanya dipakai di lingkungan formal saja, sedangkan pendidik di pakai di lingkungan formal, informal maupun non formal.[1]
Dalam lembaga-lembaga pendidikan Islam di Indonesia guru disebut ustadz yang berasal dari bahasa Arab yang berarti guru atau guru besar. Sebutan ustadz biasa dipakai di lingkungan pendidikan Islam formal yang sistem pendidikannya diselenggarakan di madrasah. Ustadz yang berarti guru besar hanya dipakai di kalangan perguruan tinggi atau Universitas Islam saja. Sedangkan kyai berasal dari bahasa Jawa yang dalam kehidupan sehari-hari digunakan untuk gelar barang yang keramat, gelar kehormatan untuk orang-orang tua pada umumnya dan gelar yang dimiliki oleh seorang ahli agama Islam yang memiliki pesantren dan mengajar kitab-kitab klasik pada santrinya.
Data dipahami bahwa siapapun dapat menjadi pendidik agama Islam asalkan ia memiliki pengetahuan (kemampuan) lebih mampu mengimplisitkan nilai relevan (dalam pengetahuannya itu). Guru merupakan suatu profesi yang bukan sekedar pekerjaan atau vocation, melainkan suatu vokasi khusus yang mempunyai ciri-ciri diantaranya yaitu: keahlian (expertise), tanggung jawab (responsibility), dan rasa kesejawatan yaitu (corporateness), selain itu guru juga mempunyai kecakapan dan pengetahuan dasar yang harus dimiliki sebagaiamana disampaikan oleh Winarno Surachmad sebagai berikut:
  1. Guru harus mengenal murid yang dipercayakan kepadanya
  2. Guru harus memiliki kecakapan memberi bimbingan
  3. Guru harus memiliki dasar pengetahuan yang jelas tentang tujuan pendidikan di Indonesia pada umumnya sesuai dengan tahap-tahap pembangunan
  4. Guru harus memiliki pengetahuan yang bulat dan baru mengenal ilmu yang diajarkan (Surachmad, 1982:61)
Untuk itu seorang guru harus memenuhi berbagai persyaratan baik secara fisik, psikis, mental, moral maupun intelektual yang secara ideal supaya kelak mampu menunaikan tugasnya dengan baik. Sehingga guru sebagai pendidik dan pengajar mempunyai peranan dan tanggung jawab dalam membentuk pribadi siswanya terutama dalam pendidikan yang diarahkan agar setiap siswanya menjadi manusia yang beriman, berilmu, berakhlak mulia serta mampu membangun dirinya dan berperan aktif dalam pembangunan bangsa.
Sebagaimana yang tercantum dalam tujuan Pendidikan Nasional secara garis besar Pendidikan Nasional diarahkan pada penggalian dan pengembangan sumber daya manusia secara optimal dengan tujuan mempersiapkan generasi penerus dalam menghadapi tantangan masa depan, demi suksesnya pembangunan guru yang profesional akan selalu menjadi motivator dalam PBM yaitu dengan cara memberikan rangsangan dan dorongan serta dapat mendinamisasikan potensi siswa dalam menumbuhkan aktifitas mentalnya, sehingga akan terjadi dinamika dalam PBM.
Dengan demikian seorang guru yang ideal mempunyai peran yang sangat penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan karena menyangkut esensi pekerjaan yang membutuhkan kemahiran untuk mewujudkan guru yang ideal (termasuk guru agama), yang dapat mengambil tuntunan nabi Muhammad SAW karena beliau adalah satu-satunya pendidik yang paling berhasil dalam rentang waktu yang relatif singkat, sehingga dapat diharapkan dapat mendekatkan realitas (guru) dengan yang ideal (Nabi Muhammad SAW). Sehingga hal ini dijadikan patokan untuk menjadikan permasalahan yang berkembang akhir-akhir ini dalam rangka meningkatkan kualitas pendidikan ke arah yang lebih baik terutama seorang guru yang dijadikan pedoman bagi siswa-siswinya.

-----------------------------------------
[1] Drs, Hj. Nuruhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam, CV. Pustaka Setia, Bandung, 1998, Hal. 69

Untuk mendapatkan file lengkap Skripsi :
"Persepsi Siswa Terhadap Guru Pendidikan Agama Islam Yang Ideal"
silahkan klik DI SINI...!!!


Tujuan Pendidikan Agama Islam

Pendidikan secara sederhana diartikan sebagai proses menuju tujuan pendidikan yang hendak dicapai. Tanpa adanya tujuan yang jelas akan menimbulkan kekaburan atau ketidakpastian, maka tujuan pendidikan merupakan faktor yang teramat penting dalam proses pendidikan.

Untuk memberikan gambaran yang jelas tentang tujuan pendidikan agama Islam, maka berikut ini akan penulis kemukakan pendapat beberapa ahli mengenai tujuan pendidikan agama Islam:
  1. Menurut Ahmad D. Marimba (dalam Umi Uhbiyat) tujuan pendidikan Islam adalah mencakup tujuan sementara dan tujuan akhir pendidikan Islam. Untuk mencapai tujuan akhir pendidikan harus dilampaui terlebih dahulu beberapa tujuan sementara. Tujuan akhir pendidikan Islam adalah terbentuknya kepribadian muslim.[1]
  2. Menurut M. Athiyah Al-Abrasy, bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah “pembentukan akhlakul karimah”.[2]
  3. Zakiah Daradjat, bahwa tujuan pendidikan agama adalah meliputi seluruh aspek kemanusiaan yang meliputi sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan dan pandangan.[3]

Dari beberapa pendapat tersebut di atas dapat diambil kesimpulan bahwa tujuan pendidikan agama Islam adalah:
Memahami ajaran-ajaran Islam secara sederhana dan bersifat menyeluruh, sehingga dapat digunakan sebagai pedoman hidup dan amalan perbuatannya, baik dalam hubungannya dengan Allah, dengan masyarakat dan hubungan dengan sekitarnya serta dapat membentuk pribadi yang berakhlak mulia sesuai dengan ajaran Islam.


---------------------------------------------
[1] Nur Uhbiyati,Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hlm. 30
[2] M.Athiyah Al-Abrasyi, Dasar-Dasar Pokok Pendidikan Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1970), hlm. 10.
[3] Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 30

Pengertian Pendidikan Agama Islam

Untuk memahami pengertian pendidikan agama Islam ini secara mendalam, maka penulis akan mengemukakan beberapa pendapat tentang pendidikan agama Islam sebagai berikut:

Menurut Zakiah Daradjat pendidikan agama Islam atau At-Tarbiyah Al-Islamiah adalah usaha bimbingan dan asuhan terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran agama Islam serta menjadikannya sebagai pandangan hidup.[1]

Sedangkan menurut Ahmad D. Marimba (dalam Umi Uhbiyat) pendidikan Islam adalah: bimbingan jasmani dan rohani berdasarkan hukum-hukum agama Islam, menuju terciptanya kepribadian utama menurut ukuran Islam.[2]

Pendidikan agama Islam adalah suatu kegiatan yang bertujuan menghasilkan orang-orang beragama, dengan demikian pendidikan agama perlu diarahkan ke arah pertumbuhan moral dan karakter.[3]

Ditinjau dari beberapa definisi pendidikan agama Islam di atas dapat disimpulkan bahwa pendidikan agama Islam adalah sebagai berikut:
  1. Segala usaha berupa bimbingan terhadap perkembangan jasmani dan rohani anak, menuju terbinanya kepribadian utama sesuai dengan ajaran agama Islam.
  2. Suatu usaha untuk mengarahkan dan mengubah tingkah laku individu untuk mencapai pertumbuhan kepribadian yang sesuai dengan ajaran Islam dalam proses kependidikan melalui latihan-latihan akal pikiran (kecerdasan, kejiwaan, keyakinan, kemauan dan perasaan serta panca indra) dalam seluruh aspek kehidupan manusia.
  3. Bimbingan secara sadar dan terus menerus yang sesuai dengan kemampuan dasar (fitrah dan kemampuan ajarannya pengaruh diluar) baik secara individu maupun kelompok sehingga manusia memahami, menghayati, dan mengamalkan ajaran agama Islam secara utuh dan benar. Yang dimaksud utuh dan benar adalah meliputi Aqidah (keimanan), Syari’ah (ibadah muamalah) dan akhlaq (budi pekerti).

---------------------------------------------------------
[1] Zakiah Daradjat, Ilmu Pendidikan Islam (Jakarta: Bumi Aksara, 1996), hlm. 86.
[2] Nur Uhbiyati, Ilmu Pendidikan Islam (Bandung: Pustaka Setia, 1998), hlm. 9.
[3] Zuhairini dan Abdul Ghofir, Metodologi Pembelajaran Pendidikan Agama Islam, (Malang: Universitas Malang, 2004), hlm.1.

Tujuan Pendidikan Islam

Tujuan pendidikan yaitu sasaran yang akan dicapai oleh seseorang atau sekelompok orang yang akan melaksanakan pendidikan Islam. Beberapa ahli pendidikan menjelaskan tentang tujuan pendidikan Islam, diantaranya:

Drs. Ahmad D. Marimba mengemukakan dua macam tujuan pendidikan yaitu sementara dan akhir. Tujuan sementara pendidikan islam yaitu tercapainya tingkat kedewasaan baik jasmaniah maupun rohaniah. Dewasa jasmaniah adalah apabila anak telah baligh dengan cirri-ciri : pertama, laki-laki berumur 15 tahun, perempuan berumur 9 tahun. Kedua, haid bagi perempuan. Sedangkan dewasa rohaniah apabila ia telah dapat memilih sendiri, memutuskan sendiri dan bertanggung jawab sendiri sesuai dengan nilai-nilai yang dianutnya. Adapun tujuan akhir pendidikan Islam yaitu terwujudnya kepribadian muslim. Kepribadian muslim disini adalah kepribadian yang seluruh aspek-aspeknya merealisasikan dan mencerminkan ajaran Islam.
  1. Aspek-aspek kejasmanian; meliputi tingkah laku luar yang mudah nampak dan ketahuan dari luar. Misalnya : cara-cara berbuat, cara-cara berbicara dan lain sebagainya.
  2. Aspek-aspek kejiwaan; meliputi aspek yang tidak segera dapat dilihat dan tidak ketahuan dari luar. Misalnya : cara berfikir, bersikap (pendirian atau pandangan dalam menghadapi seseorang atau suatu hal) dan minat.
  3. Aspek-aspek kerohanian yang luhur; meliputi aspek-aspek kejiwaan yang lebih abstrak yaitu filsafat hidup dan kepercayaan. Ini meliputi system dan nilai-nilai yang telah meresap di dalam kepribadian itu, yang telah menjadi bagian dan mendarah daging dalam kepribadian itu yang mengarahkan dan member corak seluruh kepribadian individu itu. Bagi orang yang beragama, aspek-aspek inilah yang menuntunnya kearah kebahagiaan di dunia dan di akhirat, aspek-aspek ini yang member kwalitet kepribadian keseluruhannya.(1)
Menurut Imam Al Ghazali tujuan pendidikan Islam adalah membina insane paripurna yang taqarub kepada Allah, bahagia di dunia dan di akhirat. Dan orang yang rajin mengikuti pendidikan akan memperoleh kelezatan ilmu yang dipelajarinya dan kelezatan ilmu pula dapat mengantarkan kepada pembentukan insane paripurna.

Prof. Dr. M. Athiyah Al Abrasyi mengemukakan tentang tujuan pendidikan Islam dalam satu kata yaitu fadhilah/ keutamaan. Kemudian dalam uraiannya yang dimaksud adalah:

Para ahli pendidikan Islam sepakat bahwa maksud dari pendidikan dan pengajaran bukanlah memenuhi otak anak didik dengan segala macam ilmu yang belum mereka ketahui, tetapi maksudnya ialah mendidik akhlaq dan jiwa mereka, menanamkan rasa fadhilah (keutamaan), membiasakan mereka dengan kesopanan yang tinggi, mempersiapkan mereka untuk suatu kehidupan yang suci seluruhnya, ikhlas dan jujur. Maka tujuan pokok dan terutama dari pola adalah mendidik budi pekerti dan pendidikan jiwa. Beliau juga mengutip pendapat Al Ghazali: “tujuan pendidikan adalah mendekatkan diri pada Allah, bukan pangkat dan bermegah-megahan dan janganlah seorang pelajar itu belajar untuk mencari pangkat, harta, menipu orang bodoh atau bermegah-megahan dengan kawan”.(2)

Dr. Oemar Al Taumy menyatakan sebagai berikut: “Tentang tujuan-tujuan individual yang ingin dicapai oleh PI, maka pada keseluruhannya berkisar pada pembinaan pribadi muslim yang berpadu pada perkembangan dari segi spiritual, jasmani, emosi, intelektual dan social. Atau dengan lebih jelas lagi, ia berkisar padakeseluruhannya pada pembinaan warga Negara muslim yang baik, yang percaya kepada Tuhan dan agama-Nya, sehat jasmani berimbang dalam motivasi-motivasi, emosi dan keinginan-keinginannya, sesuai dengan dirinya dan orang lain, bersenjatakan ilmu pengetahuan, memiliki alat-alatnya yang asasi, luas pengetahuan dan sadar akan masalah-masalah masyarakat bangsa dan zamannya, halus perasaan seninya dan sanggup merasakan keindahan dalam segala bentuk dan coraknya, menggunakan masa luangnya dengan kebijakan dan berfaedah, mengetahui hak dan kewajibannya, memikul tanggung jawab terhadap diri, keluarga, masyarakat, bangsa, dan kemanusiaan seluruhnya dengan kesadaran, dengan keikhlasan dan kebolehan, menghargai kepentingan kehidupan keluarga secara khas dan bersedia memikul tanggung jawab yang berkorban untuk meneguhkan dan memperkuatnya”.(3)

Abdul Fathah Jalal dalm bukunya yang berjudul Min Usulit Tarbiyati Fil Islam yang dialih bahasakan oleh Drs. Herry Noer Ali menyatakan tujuan PI yaitu menjadikan manusia sebagai abdi Allah atau hamba Allah SWT yang senantiasa mengagungkan dan membesarkan asma Allah SWT dengan meneladani Rasulullah SAW, menjunjung tinggi ilmu pengetahuan, suka mempelajari segala yang bermanfaat baginya dalam merealisasikan tujuan yang telah digariskan oleh Allah SWT.

Drs. Udin Syarifuddin Winataputra MA dan Drs. Rustana Ardiwinata, menyatakan bahwa tujuan pendidikan itu identik dengan tujuan hidup manusia. Dalam memperkuat pendapatnya mereka berpedoman pada Firman Allah:

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالإنْسَ إِلا لِيَعْبُدُونِ

Artinya: “ Dan aku (Allah) tidak menjadikan jin dan manusia melainkan untuk menyembah Aku”. (Adz-Dzariyat : 57)

Mereka juga menyitir pendapat M. Naatsir yang mengatakan: “ Menyembah Allah itu melengkapi semua ketaatan dan ketundukan kepada semua perintah Ilahi , yang membawa kepada kebesaran dunia dan kemenangan akhirat. Akan menjadi orang yang memperhambakan segenap rohani dan jasmaninya kepada Allah untuk kemenangan dirinya dalam arti yang seluas-luasnya yang dapat dicapai oleh manusia. Itulah tujuan hidup manusia di atas dunia. Dan itulah didikan yang harus kita berikan kepada anak-anak kita kaum muslimin.

Memperhambakan diri kepada Allah untuk mencari keridhaan Ilahi merupakan tujuan umum dari risalah. Dengan demikian hal itupun merupakan tujuan umum yang hendak dicapai oleh PI. Tujuan itu dapat dijabarkan ke dalam tiga aspek:

1. Menyempurnakan hubungan manusia dengan khaliqnya. Semakin dekan dan terpelihara hubungan ini akan semakin tumbuh dan berkembang keimanan seseorang dan semakin terbuka pulalah kesadaran akan penerimaan rasa ketaatan dan ketundukan kepada segala perintah dan larangan-Nya, sehingga dengan demikian peluang untuk memperoleh kejayaan semakin menjadi terbuka.

2. Menyempurnakan hubungan manusia dengan sesamanya memelihara, memperbaiki, dan meningkatkan hubungan antara manusia dan lingkungan merupakan upaya manusia yang senantiasa dikembangkan terus. Disinilah terjadi interaksi antara sesame manusia, baik dengan muslim maupun bukan, sehingga tampak citra Islam dalam masyarakat yang ditunjukkan oleh tingkah laku pemiliknya.

3. Mewujudkan keseimbangan, keselarasan dan keserasian antara kedua hubungan itu dan mengaktifkan kedua – duanya sejalan dan berjalin dalam diri pribadi. Ini berarti upaya yang berarti terus menerus untuk mengenal dan memperbaiki diri. Upaya mengenal, memperbaiki diri mengaktualisasikan kedua aspek tersebut di atas secara rinci seimbang dan selaras dalam bentuk tindakan dan kegiatan sehari – hari member petunjuk atas sejauh manakah tingkat hambah Allah itu tetap dicapai seseorang.

Perwujudan ketiga aspek tujuan tersebut dalam diri seseorang hanya dimungkinkan dengan penguasaan ilmu. Tanpa ilmu berarti seseorang itu belum siap atau belum patut untuk menyandang gelar hambah Allah. Ilmu disini meliputi segalah dan seluruh ilmu pengetahuan dapat dicapai oleh manusia. Islam tidak memilah – milahkan dan memisahkan antara ilmu pengetahuan umum dan ilmu pengetahuan agama. (4)

Kongres PI sedunia di Islamabad tahun 1980 menetapkan sebagai berikut ;
Education should aim at the balanced growth of total personality of man thought the training of man screwdriver spirit, intellect the rational self, feeling and bodily sense. Education should there fore cater for the growth of man in all its aspect, spiritual, intellectual, imaginative, physical, scientific, linguistic, both individually and collectively, and motivate all these aspects toward goodness and attainment perfection. The ultimate aim of education lies in the realization of complete submission to Allah on the level of individual, the community aqnd humanity at large.

Keputusan seminar pendidikan Islam se Indonesia tanggal 7 – 11 Mei 1960 di Cipayung Bogor, menetapkan sebagai berikut :
Tujuan pendidikan Islam adalah menanamkan taqwa dan akhlak serta menegakkan kebenaran dalam rangka membentuk manusia berpribadi dan berbudi luhur menurut ajaran Islam.(5)

Prof. H. M. Arifin M.Fd. menyatakan bahwa, tujuan pendidikan Islam adalah merealisasikan manusia muslim yang beriman dan bertaqwa serta berilmu pengetahuan yang mampu mengabdikan dirinya kepada khaliqnya dengan sikap dan kepribadian bulan yang merujuk kepada penyerahan diri kepada-Nya dalam segala aspek kehidupan, duniawiah dan ukhrawiah. Atau mewujudkan manusia yang berkepribadian muslim yang bulat lahiriah dan batiniah yang mampu mengapdikan segala amal perbuatannya untuk mencari keridhaan Allah SWT. (6) 

Berdasarkan beberapa rumusan tujuan pendidikan Islam tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa tujuan pendidikan Islam adalah : “membentuk manusia muslim sempurna yakni berkepribadian mulia, sehat jasmani dan rahani, cerdas dan pandai, bertaqwa kepada Allag SWT”.

---------------------------------
(1) Drs. A.D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam, PT. Alma'arif, Bandung, 1980, hal : 6
(2) Prof. Dr. Athiyah Al Abrasyi, Dasar-dasar Pokok PI, Bulan Bintang, Jakarta, 1970
(3) Drs. Muhammad Zain, Materi Filsafat pendidikan Islam, Yogyakarta, 1985, hal : 18-19
(4) Drs. Udin Sarifudin Wirnaputra, MA dan Rustana Andiwinata, Materi Pokok Perencanaan Pengajaran, ditjen bimbingan agama Islam & UT, 1991, hal : 120-121
(5) Prof. H. M. Arifin M.Ed, Ilmu Pendidikan Islam, Bumi Aksara, Jakarta, 1991, hal ; 38-39
(6) Ibid, hal ; 237

--------------------------------------------------------------------------------
Sumber : Diktat "Ilmu Pendidikan Islam" Oleh : ST. Suwaibatul Aslamiyah, S.Ag
Universitas Islam Lamongan


Tujuan Pendidikan

Tujuan pendidikan adalah sasaran yang akan dicapai dalam kegiatan pendidikan. Tujuan pendidikan dibedakan menjadi empat yaitu tujuan umum, tujuan operasional, tujuan sementara dan tujuan akhir.

1.Tujuan umum

Tujuan umum adalah tujuan yang akan dicapai dari semua kegiatan pendidikan. Baik dari pengajaran atau dengan cara yang lainnya. Tujuan ini meliputi seluruh aspek kemanusiaan seperti sikap, tingkah laku, penampilan, kebiasaan, dan pandangan.

Tujuan umum pendidikan harus dikaitkan pula dengan tujuan pendidikan nasional negara tempat pendidikan itu dilaksanakan serta harus dikaitkan pula dengan tujuan institusional lembaga yang menyelenggarakan pendidikan itu. Tujuan pendidikan umum ini hanya dapat dicapai setelah melalui proses pengajaran, pengalaman, pembiasaan, penghayatan, dan keyakinan akan kebenarannya. Tahapan dalam mencapai tujuan itu pada pendidikan formal (sekolah atau madrasah), dirumuskan dalam bentuk tujuan kurikuler yang selanjutnya dikembangkan dalam tujuan pembelajaran.

2.Tujuan oprasional

Tujuan oprasional adalah tujuan praktis yang akan dicapai dengan sejumlah kegiatan pendidikan tertentu. Satu unit kegiatan pendidikan dengan bahan-bahan yang sudah dipersiapakan dan diperkirakan mencapai tujuan tertentu disebut tujuan oprrasional. Dalam pendidikan formal, tujuan oprasional ini disebut juga tujuan pembelajaran yang selanjutnya dikembangkan menjadi tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus (TPU dan TPK). Tujuan pembelajaran ini merupakan tujuan pengajaran yang direncanakan dalam unut kegiatan pengajaran.

Dalam tujuan oprasional ini lebih banyak dituntut dari anak didik suatu kemampuan dan ketrampilan tertentu. Sifat oprasionalnya lebih ditonjolkan dari sifat penghayatan dan kepribadian. Misalnya pada masa permulaan yang penting adalah anak didik maupun terampil berbuat baik, perbuatan itu perbuatan lidah (ucapan) ataupun perbuatan anggota badan lainnya. Kemampuan dan ketrampilan yang dituntut pada anak didik merupakan sebagian kemampuan dan ketrampilan insane kamil dan ukuran anak, yang menuju pada insane kamil yang semakin sempurna (meningkat). Anak harus terampil melakukan ibadat (sekurang-kurangnya ibadat wajib), meskipun belum memahami dan menghayati ibadat itu.

3.Tujuan sementara


Tujuan sementara adalah tujuan yang akan dicapai setelah anak didik diberi sejumlah pengalaman tertentu yang direncanakan dalam suatu kurikulum pendidikan formal. Tujuan oprasional dalam bentuk tujuan pembelajaran dikembangkan menjadi tujuan pembelajaran umum dan tujuan pembelajaran khusus (TPU dan TPK) dapat dianggap tujuan sementara dengan sifat yang agak berbeda.

Pada tujuan sementara bentuk insane kamil dengan pola taqwa sudah kelihatan meskipun dengan ukuran beberapapun cirri pokok sudah kelihatan pada pribadi anak didik. Tujuan pendidikan seolah-olah merupakan lingkaran yang pada tingkat yang paling rendah merupakan suatu lingkaran kecil. Semakin tinggi tingkat pendidikannya lingkaran tersebut semakin besar. Tetapi sejak dari tujuan pendidikan tingkat permulaan, bentuk lingkarannya sudah harus kelihatan.

4. Tujuan Akhir

Tujuan akhir pendidikan menurut islam dapat difahami dari firman Allah:

“Hai orang-orang yang beriman bertaqwalah kamu kepada Allah dengan sebenar-benarnya taqwa, dan janganlah kamu mati kecuali dalam keadaan muslim (berserah diri kepada Allah)”. (Q.S. Ali Imran 102)

Mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah inilah merupakan ujung dan akhir dari proses hidup dan ini merupakan isi kegiatan pendidikan. Inilah akhir dari proses pendidikan yang dapat dianggap sebagai tujuan akhir.Insan kamil yang mati dalam keadaan berserah diri kepada Allah inilah merupakan tujuan akhir pendidikan menurut Islam.


-----------------------------------------------------------------------------------
Sumber : Diktat "Ilmu Pendidikan Islam" Oleh : ST. Suwaibatul Aslamiyah, S.Ag
Universitas Islam Lamongan