Hindari Mengeluh..!!! Manusia dan Medsos Bukan Tempat Mengeluh, Lalu Kepada Siapa Kita Mengeluh...???

Kita semua pasti pernah mempunyai masalah dalam kehidupan. Ada kalanya kita merasakan bahagia dan senang, ada kalanya kita merasakan sedih dan pilu. Hal ini adalah sunnatullah.

Hikmah Sholat

Shalat sebagai Rukun Islam ke dua sarat dengan makna dan hikmah yang terkait dengan aktivitas keseharian dalam kehidupan. Diantara hikmah shalat yaitu:

BERKAH MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Kita memperingati kelahiran Nabi, kita akan mendapatkan empat perkara.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

"SELAMAT DATANG DI BLOG PUSTAKA ASLIKAN, SEMOGA BERMANFAAT"
Showing posts with label Proses Belajar Mengajar. Show all posts
Showing posts with label Proses Belajar Mengajar. Show all posts

Fungsi Tujuan Dalam Proses Belajar Mengajar

Sebagaimana diketahui bahwa belajar mengajar adalah suatu kegiatan bertujuan, dengan pengertian kegiatan yang terikat oleh tujuan, terarah pada tujuan, dan dilaksanakan untuk mencapai tujuan. dengan demikian merumuskan tujuan yang akan dicapai adalah merupakan aspek terpenting yang harus diperhatikan guru dalam mengajar.

Taraf pencapaian tujuan pengajaran pada hakikatnya adalah merupakan petunjuk praktis tentang sejauh manakah proses belajar mengajar itu harus dibawa untuk mencapai tujuan yang terakhir. Hal yang demikian berlaku umum bauk dalam pendidikan keluarga maupun pendidikan sosial masyarakat, organisasi dan sekolah.

Setuap cabang pendidikan mempunyai pedoman umum tentang tujuan akhur yang akan dicapai. Tujuan pendidikan sebagai peraturan perindang-undangan.seperti di Indonesia telah ditetapkan dasar, tujuan,dan sistem pendidikan nasional.dari peraturan perundang-undangan itu diperinci ketentuan-ketentuan bagi tujuan bagi lembaga-lembaga pendidikan tertentu.

Dalam hal ini diperlukan cara kerja yang efektif dan efisien,agar semua tujuan dapat tercapai. Salah satu cara yang telah diwujudkan dalam bentuk organisasi organisasi dan pengaturannya yang fundamental dan sistematis adalah berupa sistem penilaian atau evaluasi. Evaluasi ini digunakan ntuk mencapai tujuan baik dari murid maupun dari fihak guru. Dengan pengetuan lal bahwa evaluasi mempunyai arti diagnostik, yakni mencari dan menetapkan sebab-sebab kegagalan untuk diadakan perubahan dan perbaikan sehingga tidak semata-mata menentikan lulus atau tidak lulus.

Hubungan evaluasi/penilaian dengan seluruh proses belajar mengajar terlihat pada langkah-langkah beriku :
  1. menetapkan tujuan yang hendak dicapai 
  2. mempersiapkan pengalaman dan kegiatan yang dapat digunakan untuk mencapai tujuan. 
  3. menilai dengan yakin bahwa hasil yang diharapkan dapat tercapai.
Untuk dapat menjadikan tujuan tertentu sebagai petunjuk operasional, diperlukan rumusan tujuan secara lebih khusus. Rumusan tujuan harus dipusatkan pada perubahan tingkah laku anak didik. Dan selanjutnya menempatkan tujuan fungsional sebagai tujuan akhir.

Faktor Yang Mempengaruhi Proses Belajar Mengajar

Agar perubahan-perubahan dalam diri anak didik sebagai hasil dari suatu proses belajar mengajar itu sampai pada tujuan yang diharapkan, perlu diperhatikan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi proses belajar-mengajar tersebut.

Fakor-faktor tersebut diantaranya, murid yang merupakan bahan baku dan yang harus diberi pengarahan dalam proses belajar mengajar, proses belajar mengajar itu sediri sebagai usaha untuk mempengaruhi murid. Dalam proses belajar itu juga terdapat faktor-faktor yang dengan disengaja direncanakan dan dimanipulasi untuk menunjang tercapainya keluaran yang dikehendaki.

Faktor-faktor yang mempengaruhi proses belajar-mengajar yang ada pada murid dapat dibagi menjadi dua, yaitu: 
(1) dari luar, seperti: kurikulum, sarana, pengajar, program belajar, sosial, dan lingkungan murid, dan 
(2) dari dalam murid sendiri, seperti: kondisi fisik, indera, minat, kecerdasan, motivasi, ingatan, perhatian, dan sikap.


Ciri dan Pola Interaksi Proses Belajar Mengajar

Proses Belajar Mengajar sering disebut juga dengan Kegiatan Belajar mengajar, yang didalamnya terkandung dua unsur pokok, yaitu: unsur kegiatan guru dan unsur kegiatan murid.
Dalam proses mengajar yang sering juga disebut prosedur mengajar, guru melakukan kegiatan atau perbuatan yang betujuan membawa anak kearah tujuan, dan anak didik melakukan kegiatan yang disediakan oleh guru, yaitu kegiatan belajar yang juga bertujuan pada tujuan yang sama. Sehingga apa yang akan dilakukan guru akan mendapat respon dari murid, dan apa yang dilakukan murid akan mendapat sambutan dari guru.
Semua kegiatan tersebut sekurang-kurangnya harus terdapat:
a. Tujuan yang jelas
b. Bahan yang menjadi isi interaksi
c. Pelajar yang aktif mengalami
d. Guru yang melaksanakan
e. Metode tertentu untuk mencapai tujuan.
f. Situasi yang memungkinkan terjadinya proses interaksi
g. Penilaian terhadap hasil interaksi[1]

Dari komponen-komponen diatas, tanpa mengurangi pentingnya komponen lain, komponen guru merupakan komponen yang paling menentukan dalam proses belajar mengajar. Untuk itu kualifikasi guru sangat penting diperhatikan dalam rangka pencapaian tujuan pendidikan dengan prestasi belajar murid sebagai salah satu indikatornya.

-----------------------------
[1] Prof. Dr. W. Surakhmad, Pengantar Interaksi Mengajar Belajar, (Bandung: Tarsito, 1980), hal.16

Pengertian Proses Belajar Mengajar

Dalam dunia pendidikan kita mengenal istilah Proses Belajar Mengajar (PBM) yang didalamnya terkandung variabel-variabel pokok berupa kegiatan guru dalam mengajar dan kegiatan murid dalam belajar. Menurut Benyamin S. Blom dalam bukunya The Taxonomy of Educational Objectives-Cognitive Domain, menyebutkan bahwa dengan Proses Belajar Mengajar kita akan memperoleh kemampuan yang terdiri dari tiga aspek, yaitu:
  1. Aspek pengetahuan
  2. Aspek sikap
  3. Aspek ketrampilan[1].

Aspek pengetahuan berhubungan dengan kemampuan individual mengenai dunia sekitarnya yang meliputi perkembangan intelektual atau mental. Aspek sikap mengenai perkembangan sikap, perasaan, nilai-nilai yang dahulu sering disebut sebagai perkembangan emosionalatau moral, sedangkan aspek ketarampilan menyangkut perkembangan ketrampilan yang mengandung unsur motoris.

Ketiga aspek itu secara sederhana dapat dipandang sebagai aspek yang bertalian dengan "head" (aspek cognitive), "heart" (aspek affective), dan "hand" (aspek psychomotor), ayang ketiganya saling berhubungan erat, tidak terpisah satu dengan yang lain.

Tiap-tiap aspek terdiri dari tertib urutan yang disebut taxonomi yeng berupa tujuan pendidikan yang harus dicapai dalam situasi belajar mengajar. Aspek-aspek kemampuan yang yang diperoleh dari proses blajar mengajr itu menurut Blom dapat dijabarkan adalam bentuk-bentuk yang lebih operasional, yaitu:
a. Aspek pengetahuan, terdiri dari 6 kecakapan, yaitu:
  1. pengetahuan,
  2. pemahaman,
  3. penerapan,
  4. penguraian,
  5. pemaduan,
  6. penilaian.
b. Aspek sikap (affective) terdiri dari 5 kecakapan, yaitu:
  1. kecakapan menerima rangsangan
  2. kecakapan merespons rangsangan
  3. kecakapan menilai sesuatu
  4. kecakapan mengorganisasi nilai
  5. kecapakan menginternalisasikan (mewujudkan) nilai-nilai[2].
c. Aspek Ketrapilan (psychomotor)

Dalam aspek ini akan memperoleh ketrampilan yang bermacam-macam bermacam-macamberdasarkan kepentingannya, melalui: persepsi, kesiapan, jawaban, terarah, mechanism, jawaban yang komplek, adaptation, dan origination.

Dari penjelasan diatas dapat diperoleh kejelasan bahwa proses belajar-mengajar pada dasarnya mengharapkan terjadinyaperubahanmasing-masing aspek tersebut, hanya tingkat kedalaman perubahan masing-masing aspek harus disesuaikan dengan disiplin ilmu yang dipelajarinya. Namun yang jelas diharapkan bahwa dengan perubahan yang terjadi dalam tiga aspek tersebut akan berpengaruh terhadap tingkah laku murid[3]. Dimana pada akhirnya cara, cara merasa, dan cara murid melakukan sesuatu itu akan menadi relatif menetap dan membentuk kebiasaan bertingkah laku pada dirinya. Segala sesuatu yang dipelajarinya hendaknya merupakan satau landasan bagi dirinya untuk melakukan usaha-usaha pemecahan teradap masalah-masalah yang dihadapinya dikemudian hari. Hal ini berarti bahwa perubahan yang terjadi pada dirinya harus merupakan perubahan tingkah laku yang lebih baik.

Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa proses belajar mengajar merupakan suatu proses yang mengakibatkan beberapa perubahan yang relatif menetap dalam tingkah laku seseorang.Sesuai dengan tujuan pendidikan yang dikemukakan oleh Bloom, maka sifat perubahan yang terjadi pada masing-masing aspek itupun bergantung ada tingkat kedalaman belajar-mengajar yang dialami.


---------------------------------------
[1] Prof. Dr. Nasution, MA, Teknologi Pendidikan (Bandung: Jenmers, 1962), hal. 34
[2] Prof. Dr. S. Nasution, MA, opcit, hal. 36
[3] Ibid, hal. 3