Hindari Mengeluh..!!! Manusia dan Medsos Bukan Tempat Mengeluh, Lalu Kepada Siapa Kita Mengeluh...???

Kita semua pasti pernah mempunyai masalah dalam kehidupan. Ada kalanya kita merasakan bahagia dan senang, ada kalanya kita merasakan sedih dan pilu. Hal ini adalah sunnatullah.

Hikmah Sholat

Shalat sebagai Rukun Islam ke dua sarat dengan makna dan hikmah yang terkait dengan aktivitas keseharian dalam kehidupan. Diantara hikmah shalat yaitu:

BERKAH MAULID NABI MUHAMMAD SAW

Kita memperingati kelahiran Nabi, kita akan mendapatkan empat perkara.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.

"SELAMAT DATANG DI BLOG PUSTAKA ASLIKAN, SEMOGA BERMANFAAT"
Showing posts with label Prestasi Belajar. Show all posts
Showing posts with label Prestasi Belajar. Show all posts

Pengertian Prestasi Belajar

Prestasi belajar terdiri dari dua kata, yaitu prestasi dan belajar untuk memberikan kemudahan dalam pemahaman, maka penulis mengemukakan beberapa pendapat tentang definisi dari kedua kata tersebut.
Kata prestasi berasal dari bahasa Belanda yaitu prestatie, kemudian diadopsi ke dalam bahasa Indonesia menjadi prestasi yang berarti hasil usaha[1]. Sedangkan dalam kamus bahasa Indonesia kata prestasi diartikan sebagai usaha yang telah dicapai ( dilakukan, dikerjakan, dan sebagainya )[2].
Sedangkan belajar, para ahli mengemukakan dengan definisi yang berbeda – beda, antara lain :
Slameto mengatakan bahwa, “belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh tingkah laku yang baru secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”.[3]
 
Pengertian prestasi belajar sendiri menurut Syaiful Bahri Djamarah adalah hasil yang diperoleh berupa kesan – kesan yang mengakibatkan perubahan dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas dalam belajar dan diwujudkan dalam bentuk nilai atau angka[4].
Dengan demikian penulis dapat menarik kesimpulan bahwa yang dimaksud dengan prestasi belajar adalah penguasaan dan perubahan tingkah laku dalam diri individu sebagai hasil dari aktivitas belaj dan penilaiannya diwujudkan dalam bentuk nilai atau angka.

Prestasi belajar merupakan suatu masalah yang sangat potensial dalam sejarah kehidupan manusi karena sepanjang tentang kehidupannya manusia selalu mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuan masing-masing. Kehadiran prestasi belajar dalam kehidupan manusia pada tingkat dan jenis tertentu dapat memberikan kepuasan tersendiri pada manusia, semakin terasa penting untuk dipermasalahkan, karena mempunyai beberapa fungsi utama, antara lain:
  1. Prestasi belajar sebagai indikator kualitas dan kuantitas pengetahuan yang telah dikuasai anak didik.
  2. Prestasi belajar sebagai lambang pemuasan hasrat ingin tahu, termasukkebutuhan anak didik dalam suatu program pendidikan.
  3. Prestasi belajar sebagai bahan informasi dalam inivasi pendidikan.
  4. Prestasi belajar sebagai indikator intern an ekstern dari suatu institusi pendidikan.
  5. Prestasi belajar dapat dijadikan indikator terhadap daya serap anak didik.5
Dengan adanya penjelasan tersebut diatas, dapat dimengerti betapa pentingnya untuk mengetahui prestasi belajar anak didik, baik secara individu atau kelompok. Karena dalam fungsi prestasi tidak hanya sebagai indikator keberhasilan dalam bidang studi tertentu, tetapi juga sebagai indikator kualitas pendidikan. Disamping itu prestasi belajar juga berguna sebagai umpan balik bagi guru dalam melaksanakan proses belajar mengajar.

Sebagai mana yang dikemukakan oleh Cronbach bahwa :
Kegunaan prestasi belajar banyak ragamnya, bergantung kepada ahli dan versinya masing-masing. Namun diantaranya sebagai berikut:
  1. Sebagai umpan balik bagi pendidik dalam mengajar.
  2. Untuk keperluan diagnostik.
  3. Untuk keperluan bimbingan dan penyuluhan.
  4. Untuk keperluan seleksi.
  5. Untuk keperluan penempatan atau penjurusan.
  6. Untuk menentukan isi kurikulum.
  7. Untuk menentukan kebijaksanaan sekolah.6

----------------------------
[1] Zainal Arifin, Evaluasi Instruksional Prinsip Teknik dan Prosedur ( Bandung : Rosdakarya, 1991 ), 2.
[2] DEPDIKNAS, Kamus Besar Bahasa Indonesia, 895
[3] Slameto, Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya (Jakarta : Rineka Cipta, 1995 ), 104.
[4] Syaiful Bahri Djamarah, Prestasi Belajar dan Kompetensi Guru ( Surabaya : Usaha Nasional, 1994 ), 22.
5 ibid, hal: 3-4.
6 Zainal Arifin, Evaluasi Instruksional (Prinsip-Teknik-Prosedur) (Bandung : PT. Remaja Rosdakarya,1991), 2.

Pengaruh Penerapan Strategi PAIKEM Terhadap Prestasi Belajar Pendidikan Agama Islam

Dalam proses pendidikan Islam, strategi dalam pembelajaran mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam upaya pencapaian tujuan, karena ia menjadi sarana yang memberi makna materi pelajaran yang tersusun dalam kurikulum pendidikan sedemikian rupa sehingga dapat dipahami atau diserap peserta didik menjadi pengertian – pengertian fungsional terhadap tingkah lakunya.

Tanpa menggunakan strategi dalam pembelajaran proses belajar mengajar tidak akan dapat berjalan secara efektif dan efisien sehingga sulit untuk mencapai tujuan pendidikan yang diharapkan.

Dalam melakukan sesuatu seseorang pasti mempunyai tujuan, begitu juga dalam pendidikan, seorang guru mengajar menginginkan materi pelajaran yang disampaikan dapat dikuasai oleh siswa, begitu juga siswa belajar menginginkan perubahan dalam dirinya serta meraih prestasi yang bagus.

Namun untuk mencapai tujuan tersebut juga tidaklah mudah, jika seorang guru tidak mampu mengenali dan memahami karakter masing – masing siswa.salah satu hal yang penting pula adalah memahami gaya belajar siswa. Ada tiga gaya belajar yang harus diketahui yakni visual, auditorial dan kinestetik. Seperti yang diusulkan istilah – istilah ini, orang visual belajar melalui apa yang mereka lihat, pelajar auditorial melakukannya melalui apa yang mereka dengar dan pelajar kinestetik belajar lewat gerak dan sentuhan. Walaupun orang telah cenderung pada salah satu diantara ketiganya.

Oleh karena itu seorang guru yang baik adalah guru yang memahami dan menghormati murid, menghormati bahan pelajaran yang diberikannya, mengaktifkan murid dalam belajar, mempunyai tujuan tertentu dengan tiap pelajaran yang diberikannya, dan yang tidak kala pentingnya adalah seorang guru harus mampu menyesuaikan strategi mengajar sesuai dengan bahan pelajaran atau materi yang akan disampaikan, karena tidak semua strategi dapat digunakan dalam tiap materi pelajaran.

Penggunaan stategi PAIKEM sangat membantu siswa dalam mengembangkan kemampuan berfikir tahap tinggi, berfikir kritis dan berfikir kreatif. Sehingga degan strategi PAIKEM akan lebih memungkinkan peserta didik dan guru sama – sama kreatif dalam pembelajaran dan aktif dalam berbuat, dalam berinteraksi dengan sesama teman, guru, materi pelajaran dan segala alat bantu belajar, sehingga hasil pembelajaran dapat meningkat.

Tinggi rendahnya mutu pelajaran atau baik buruknya nilai pelajaran siswa dapat ditentukan oleh strategi dalam mengajar yang digunakan oleh guru. Apabila seorang guru menyampaikan materi pelajaran menggunakan strategi yang tepat seperti halnya strategi yang berbasis PAIKEM dalam arti sesuai dengan tujuan dan materi pelajaran, maka akan memperoleh hasil yang memuaskan dan sebaliknya seorang guru dalam menyampaikan bahan pelajaran dengan strategi yang kurang tepat, hasilnya akan kurang memuaskan, rendahnya mutu pelajaran dan prestasi belajar siswa kurang baik.

Strategi mengajar yang tidak tepat guna akan menjadi penghalang kelancaran jalannya proses belajar mengajar sehingga banyak tenaga dan waktu terbuang sia-sia karena itu strategi yang diterapkan oleh seorang guru baru berdaya guna dan berhasil guna mampu dipergunakan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan.

Salah satu hal yang menentukan keberhasilan pelaksanaan pendidikan Agama di sekolah adalah pemahaman prinsip – prinsip dasar ketepatan dalam memilih dan menggunakan strategi atau metode pendidikan. Sehingga sekolah dan guru Agama mampu mengemban tugas pendidikan nasional.

Strategi dalam pembelajaran yang digunakan oleh guru, tidak hanya sekedar berfungsi mengantarkan bahan atau materi pelajaran kepada anak didik, akan tetapi strategi mengajar dalam hal ini yaitu implementasi strategi PAIKEM ikut menentukan aktivitas anak didik dan mendorong anak didik untuk belajar dengan aktif, inovatif dan kreatif, baik memberi tanggapan terhadap materi pelajaran yang dihadapi maupun dalam proses belajar mengajar, selanjutnya dengan kata lain implementasi strategi PAIKEM dalam pembelajaran secara tegas ikut menentukan keberhasilan pelaksanaan pendidikan dan pengajaran maka dari itu, dapat dipastikan mutu pendidikan dan pengajaran akan bertambah baik pula, dan hal ini akan menambah nilai belajar siswa, sehingga siswa dapat meningkatkan prestasi belajarnya.

Akhirnya dalam uraian ini, penulis menegaskan bahwa setiap pengajaran khususnya pengajaran pendidikan agama Islam digunakan strategi yang tepat dan sesuai, maka strategi pengajaran tersebut berpengaruh positif terhadap prestasi belajar prestasi belajar siswa. Sebaliknya, apabila guru menggunakan strategi yang kurang tepat dan kurang sesuai maka strategi tersebut akan perpengaruh negative terhadap prestasi belajar siswa.

Cara Menentukan Prestasi Belajar

Cara yang paling sesuai untuk melihat perkembangan siswa atau prestasi belajar siswa dalam proses belajar mengajar yakni dengan mengadakan evaluasi. Seperti yang dikemukakan oleh Nana Sudjana dalam bukunya bahwa, “Evaluasi pada dasarnya adalah proses nilai sesuatu berdasarkan kriteria tertentu. Dalam proses tersebut tercakup usaha mencari dan mengumpulkan data atau informasi”.30

Evaluasi sebagaimana kita lihat adalah pengumpulan data atau informasi secara sistematis untuk menetapkan apakah dalam kenyataan terjadi perubahan dalam diri siswa. Evaluasi atau penilaian merupakan salah satu bagian dari pendidikan, yang memusatkan perhatian kepada program-program pendidikan untuk anak didik.

Lingkup evaluasi program pendidikan mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan, pembinaan dan pengembangan program. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengukuran adalah suatu proses penentuan kecakapan, penentuan penguasaan seseorang dengan membandingkan dengan norma-norma tertentu sehingga muatan belajar dapat diketahui.

Pada garis besarnya teknik evaluasi dapat dibedakan menjadi dua macam, yaitu:

1) Teknik Tes

Perubahan yang ada dalam diri siswa baik dalam pengetahuan, ketrampilan dan sikapnya menunjukkan bahwa anak tersebut mempunyai prestasi belajar. Perubahan ini dapat dilihat secara langsung, ataupun tidak langsung. Perubahan yang tidak dapat dilihat secara langsung sebelumnya dapat diketahui dengan cara pemberian tes. Prof. Dr. arikunto menjelaskan dalam bukunya “Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan” bahwa, “tes itu mengukur apa yang harus dan dapat diajarkan pada suatu tingkat tertentu atau bahwa tes itu menyimpan suatu standar prestasi dimana siswa harus dan dapat mencapai suatu tingkat tertentu”.31

Berdasarkan pendapat ini bahwa tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur keberhasilan siswa dalam kegiatan belajar mengajar. Jadi tes yang digunakan dalam ujian adalah untuk mengetahui sejauh mana siswa mencapai keberhasilan atau prestasi belajar siswa setelah mengetahui suatu mata pelajaran atau bidang studi tertentu. Tes pada umumnya dipergunakan untuk mengadakan penilaian terhadap intelegensi, kemampuan dan kecakapan siswa disekolah. Dengan demikian dapat disimpulakan bahwa tes adalah suatu alat pengukur berhasil tidaknya suatu pengajaran yang telah diterima anak didik disekolah.

2) Teknik Non Tes

Teknik non tes pada umumnya dipergunakan untuk menilai kemampuan siswa yang berhubungan dengan kepribadian dan sikap sosialnya dalam proses belajar mengajar disekolah.



------------------------------------------
30 Nana Sudjana, Dasar -Dasar Proses Belajar Mengajar (Bandung : Sinar Baru Algesindo, 1995), 127.
31 Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan (Edisi Revisi) (Jakarta : Bumi Aksara, 1999), 145.

Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar Siswa

Dalam proses belajar mengajar tidak semua siswa dapat menangkap seluruh apa yang dijelaskan oleh guru, oleh sebab itu prestasi belajar siswa juga akan berbeda beda dikarenakan adanya beberapa faktor yang mempengaruhinya, baik dalam dirinya ataupun dari luar dirinya.

Seperti yang telah dijelaskan oleh Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono dalam bukunya bahwa, prestasi belajar siswa banyak dipengaruhi berbagai faktor, baik dalam dirinya (internal) maupun dari luar dirinya (eksternal). Prestasi belajar yang dicapai siswa pada hakekatnya merupakan hasil interaksi antara berbagai faktor tersebut. Oleh karena itu, pengenalan guru terhadap faktor yang dapat mempengaruhi prestasi belajar siswa penting sekali artinya dalam membantu siswa mencapai prestasi belajar yang sebaik-baiknya sesuai dengan kemampuan masing-masing.1

a. Faktor Yang Berasal dari Diri Sendiri (Internal)

Faktor yang berasal dari dalam diri siswa sendiri meliputi dua aspek, yaitu aspek fisiologis dan apek psikologis.

1) Faktor Fisiologis (jasmaniah)

Kondisi umum jasmani yang memadai (baik yang bersifat bawaan maupun yang diperoleh), dapat mempengaruhi semangat dan intensitas dalam mengikuti pelajaran. Kondisi organ tubuh yang lemah, dapat menurunkan kualitas belajarnya sehingga materi yang dipelajarinya pun kurang atau tidak berbekas.2

2) Faktor Psikologis

Banyak faktor yang termasuk aspek psokologis yang dapat mempengaruhi kualitas perolehan belajar siswa. Drs. Muhibbin Syah, M. Ed. menerangkan dalam bukunya, bahwa :

Diantara faktor-faktor rohaniah siswa yang pada umumnya dipandang lebih esensial itu adalah sebagai berikut:

a) Tingkat kecerdasan / intelegensi siswa.
b) Sikap siswa.
c) Bakat siswa.
d) Minat siswa.
e) Motivasi siswa.3


b. Faktor yang berasal dari luar diri sendiri (eksternal) 


Faktor eksternal yang berpengaruh pada prestasi belajar siswa dapat dibagi menjadi beberapa bagian, yaitu:

1. Faktor Sosial, yang terdiri atas:

a) Lingkungan Keluarga

Keluarga adalah lingkungan pertama yang memberi pengaruh pada seorang anak. Begitu pula dengan keberhasilan belajarnya pun siswa banyak sekali dipengaruhi oleh lingkungan keluarganya.

Siswa yang belajar akan menerima pengaruh dari keluarga berupa: cara orang tua mendidik, relasi antar anggota keluarga, suasana rumah tangga dan keadaan ekonomi keluarga.4

b) Lingkungan Sekolah

Sekolah adalah tempat dimana berlangsungnya proses belajar mengajar. Faktor sekolah yang mempengaruhi proses belajar siswa antara lain: metode mengajar guru,hubungan siswa dengan guru, hubungan siswa dengan siswa, keadaan gedung sekolah, sarana sekolah, metode belajar, tugas yang diberikan oleh guru dan sebagainya.

c) Lingkungan Masyarakat

Masyarakat terdiri atas sekelompok manusia yang menenpati daerah tertentu, menunjukkan integrasi berdasarkan pengalaman bersama berupa kebudayaan, memiliki sejumlah lembaga yang melayani kepentingan bersama, mempunyai kesadaran akan kesatuan tenpat tinggal dan bila perlu dapat bertindak bersama.5

Dengan ini sudah barang tentu masyarakat mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap belajar siswa. Karena dalam masyarakat siswa berinteraksi dengan lingkungannya dan interaksi yang kurang tepat kerap kali terjadi sehingga dapat menghambat siswa untuk belajar. Dan diantara pengaruh tersebut adalah: kegiatan siswa dalam masyarakat, teman bergaul, mas media, bentuk kehidupan masyarakat.

2. Faktor Budaya

Faktor budaya yang termasuk mempengaruhi belajar adalah faktor yang disalurkan melalui media massa baik elektronik maupun surat kabar yang ada disekeliling kita. Begitu juga dengan adanya kemajuan teknologi saat ini yang mana segala informasi dapat secara cepat diterima oleh kalangan manapun. Melalui media diatas pengaruh budaya asing yang mana secara tidak langsung akan lebih mudah mempengaruhi perilaku anak, serta mempengaruhi pula dalam kegiatan belajarnya. Dengan banyaknya acara-acara yang ditayangkan ditelevisi maka banyak pula anak-anak yang menjadi malas belajar karena disibukkan dengan acara-acara yang ada di televisi, sehingga mengakibatkan semangat untuk meningkatkan prestasi anak didik lebih menurun.

3. Faktor lingkungan fisik

Faktor lingkungan fisik yang dimaksud adalah lingkungan yang tidak jauh dari fisik individu itu sendiri. Faktor yang termasuk lingkungan fisik ialah tempat tinggal keluarga siswa dan letaknya, alat-alat belajar yang terdapat dirumah sebagai sarana belajar siswa. Faktor inilah yang dipandang turut menentukan keberhasilan siswa.

4. Faktor lingkungan spiritual atau keagamaan

Lingkungan spiritual atau keagamaan yang berada ditempat tinggal anak sangat berpengaruh terhadap prestasi belajar anak. Masyarakat yang beragama maka lingkungan sebagai tempat tinggal untuk hidup akan damal, masyarakatnya karena tidak ada keributan, penuh dengan kerukunan dan saling menghormati sehingga dapat memberikan kenyamanan bagi anak yang sedang belajar. Keadaan yang temtram dan aman penuh dengan nuansa keagamaan inilah dapat memudahkan anak untuk berkonsentrasi dalam belajarnya.

----------------------------------
1 Abu Ahmadi dan Widodo Supriyono, Psikologi Belajar (Jakarta : Rineka Cipta, 1991), 9.
2 Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan (Bandung : Remaja Rosdakarya,1995), 132.
3 ibid, hal, 133.
4 Slamet, Belajar Dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhinya (Surabaya : Rineka Cipta, 1991), 62
5 S. Nasution, Sosiologi Pendidikan (Jakarta : Bumi Aksara, 2004), 150.