Hubungan Tawakal Dengan Usaha

Tawakal kepada Allah bukan berarti menghilangkan dan meninggalkan usaha atau ikhtiar. bahkan tawakal tidak sah tanpa adanya usaha.

Rasulullah SAW. adalah contoh orang yang paling bertawakal. Namun Beliau selalu mengadakan persiapan dalam menghadapi sesuatu. Beliau memerintahkan kepada orang lain agar bekerja mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga.

Orang yang tidak mau berusaha, ia tidak akan memperoleh sesuatu yang ia harapkan. Jika seseorang ingin sembuh dari penyakitnya, hendaklah ia berobat. Dalam hal ini Rasulullah menegaskan, "Hai manusia, berobatlah! sesungguhnya Allah tidak menurunkan penyakit, kecuali telah menyiapkan obatnya."

Pada suatu sore ada seorang lelaki datang menghadap Rasulullah. Dia berkeinginan meninggalkan begitu saja unta kendaraannya tanpa diikat di depan masjid. Orang tersebut kemudian berkata, "Ya Rasulullah, aku harus mengikat unta itu ataukah bertawakal, atau meninggalkan begitu saja tanpa diikat kemudian bertawakal?" Rasulullah menjawab, "Ikatlah, baru kemudian bertawakal!" (HR.Tirmidzi dari Anas bin Malik)

Tawakal tidak sah tanpa disertai usaha dan mengikuti sunah, serta aturan-aturan yang telah ditetapkan Allah SWT. Setelah berusaha baru kemudian berserah diri kepada Allah, menyerahkan segala perkara kepada-Nya dan tidak mengharapkan hasil apa pun kecuali dari sisi-Nya. Dalam Al-Qur'an Allah telah menegaskan :
"Dan milik Allah meliputi rahasia langit dan bumi dan kepada-Nya segala urusan dikembalikan. Maka sembahlah Dia, dan bertawakallah kepada-Nya." (QS. Hud:123)

Suatu ketika Umar bin Khaththab melihat sekelompok orang yang salah sangka, bahwa tawakal itu meninggalkan segala usaha. mereka meninggalkan bekerja, sehingga menjadi lemah dan malas. Umar kemudian berkata, "mengapa kalian demikian?" jawab mereka, "kami bertawakal kepada Allah." lantas Umar berkata, "Kamu bohong, kamu bukan bertawakal, tapi malas."

Dari beberapa pernyataan diatas, dapat diambil kesimpulan bahwa tawakal merupakan sikap penyerahkan diri terhadap segala sesuatu kepada Allah setelah berusaha dengan sungguh-sungguh. Dan tawakal sendiri tidak sah tanpa disertai dengan adanya usaha dan mengikuti sunah, serta aturan-aturan yang ditetapkan Allah SWT.

Memang semua manusia sudah ditetapkan rizkinya masing-masing, namun rizki itu tidak datang dengan sendirinya, tetapi harus melalui ikhtiar atau usaha. Misalkan saja, jika kita ingin pandai, haruslah kita rajin belajar, dll. Dalam segala usaha (ikhtiar) haruslah disertai dengan do'a, berdo'a dengan sungguh-sungguh kepada Allah mengharap apa yang diinginkan.

Semoga Bermanfaat, Aamiin,,,

Blog, Updated at: 6:08:00 PM

0 komentar:

Post a Comment

Pustaka Aslikan | Learning and Knowledge Sharing |. Powered by Blogger.